Bisa Saja Imam Mahdi dari Trah “Mastur” Walisongo yang Menjaga Peradaban Tinggi

Oleh: Ubaidillah Ach. Tamam Munji
(Penulis Buku Best Seller, Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologi dan Rekonsiliasi Akar Rumput. Buku Best Seller Suluk Kiai Cebolek Dalam Konflik Keberagamaan Dan Kearifan Lokal)

NUJateng.comIslam merupakan agama yang mengajarkan kepasrahan dan keimanan kepada Allah dengan nalar sehat, ilmu pengetahuan dan amal yang baik. Arti penting ilmu, Iman dan amal yang baik (keshalehan) inilah, yang menjadi visi-misi keturunan Nabi Muhammad melalui jalur trah Walisongo. Keturunan Walisongo dalam aktivitas keberagamaan dan bermasyarakat benar benar membersihkan simbolisasi kenasaban, bersyukur sebagai warga masyarakat pribumi yang bisa mengkritik dan dikritik, tidak tersinggung ketika ada yang mengatakan bahwa keturunan Walisongo terputus. Keturunan Walisongo tidak tertarik dengan membanggakan nasab, mereka lebih mendukung kebangkitan Ulama (Nahdlatul Ulama). Ulamalah yang menjadi pewaris para Nabi hingga Nabi Muhammad.  

Karenanya, trah Walisongo tidak terbawa perasaan atau marah ketika menjadi sasaran arogansi beberapa habib, yang mengatakan trah Walisongo berada pada level kelas sosial di bawah mereka. Bahkan, dengan tulus, trah dari Walisongo menghormati mereka dan tetap mendapat pengaruh yang kuat di tengah masyarakat. Dalam realitas sosial politik, organisasi apapun meski terdapat oknum habib, yang memusuhi Nahdlatul Ulama, selalu “jatuh” tidak berdaya. Misalnya, organisasi PKI, imigran yang membonceng penjajah belanda, ternyata ada sosok dari Habaib, yang akhirnya juga tidak bisa menguatkan keberadaan Belanda di Nusantara. Dalam tubuh FPI yang juga ditemukan ada dari Habib dengan khas mubahalahnya, kesemuanya berguguran dan melemah tidak berdaya. Fenomena ini tidak membuat semakin sombong trah Walisongo, namun tetap saja trah walisongo lebih memilih menyembunyikan kenasabannya. Fenomena ini memunculkan banyak prediksi, misalnya, bisa saja Imam Mahdi dari trah “tersembunyi” Walisongo. Organisasi Islam terbesar yang bisa mem-back up Imam Mahdi hanya NU dan di NU banyak trah Walisongo (hanya Allah yang Mengetahui rahasia ciptaan-Nya).   

Baca Juga: Menerjemahkan Gagasan Abad Ke-2 NU: Visi Peradaban dan Kemasyarakatan

Sikap positif ini berlangsung sudah satu abad bersamaan dengan berdirinya organisasi terbesar dunia, yang di ikuti para trah Walisongo: Nahdlatul Ulama. Sikap tidak membanggakan nasab bagi trah Walisongo merupakan pilihan akademik yang sangat rasional dan empiris, bahwa membanggakan nasab menjadi kontradiktif dengan konsep pribumisasi Islam yang dilakukan Walisongo. Tentu saja, membanggakan nasab tidak sesuai dengan budaya masyarakat Nusantara, karenanya menjadi pilihan sikap akademik yang berat Ketika trah Walisongo melindungi para Habaib yang suka membanggakan Nasab, sementara tidak sesuai dengan budaya masyarakat nusantara di satu sisi, sedangkan di sisi lain akan menguatkan sistem feodalisme lama di nusantara ini. Yang ironis, justru bermunculan beberapa Habib ini yang memandang rendah dzuriah Nabi dari trah Walisongo dengan istilah ungkapan yang tidak baik dan dalam konteks tertentu memobilisasi untuk masa untuk main hukum sendiri. Alhamdulillah trah Walisongo berada dalam rumah bersama Islam Nusantara.

Komitmen trah Walisongo menjaga Habaib dan mengajak masyarakat untuk menghormatinya merupakan sikap yang telah melawan arus. Mengapa melawan arus? Karena menjaga kenasaban Bani Ba’alawi ini, berada di tengah budaya nusantara yang notabenya mengajarkan kepada putra dan putrinya untuk dan tidak membanggakan nasab para leluhurnya. Terbukti, kebanyakan nama masyarakat Jawa tidak menggunakan si fulan putra fulan (fulan bin fulan). Penulis sendiri sering bertemu beberapa kejadian terkait dengan sosok fulan yang suka membawa bawa nama orang tua, justru menjadi bahan candaan dan ejekan teman bermainnya. Tentu saja, para Walisongo mengajarkan kepada para keturunannya untuk tidak mengandalkan nasab, bukan karena ingin menutup kenasaban, namun lebih pada kondisi budaya masyarakat yang menguatkan sikap sopan santun, ramah tamah, gotong-royong, kesamaan hak dan kewajiban antara satu sama yang lain. Inilah alasan model dakwah Walisongo yang mudah dipahami dan diterima masyarakat Jawa. Di Jawa, orang yang memiliki kedudukan tinggi sebagai raja atau menguasai sistem kapital zamannya akan dihormati, namun tidak akan diikuti ajarannya. Masyarakat Jawa sejak leluhurnya, lebih menghormati dan mengikti seseorang yang memiliki komitmen kepada kemanusiaan, keadilan dan persamaan. Selain itu, juga menghormati sosok individu yang benar benar membebaskan dan mencerahkan yang didukung dengan kemampuan “linuih” dalam kawasan fisika maupun metafisika.

Kondisi historis masyarakat Jawa yang mempengaruhi kebiasaan ‘njawani’ trah Walisongo ini, benar benar sudah bercampur dengan nilai keutamaan yang mendasar tumbuh berkembang di lingkungan masyarakat Jawa. Nilai nilai dasar ini dikenal dengan istilah core values. Kemunculan obrolan di kalangan Habaib yang tidak mengenal keturunan Walisongo dengan mengatakan Walisongo tidak mempunyai keturunan dari jalur laki-laki, adalah tidak memancing atau menyulut kemarahan. Dengan kata lain, trah Walisongo berpandangan positif Ketika menyaksikan ketidakpercayaan sebagian Habaib yang menolak kenasaban Walisongo. Bahkan, ditemukan video yang beredar luas, memasukkan keturunan Walisongo sebagai kelas di bawah Habaib. Tentu berbeda dengan Habaib, yang dengan amarah merespon isu kenasaban yang dikeluarkan oleh beberapa orang. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu membawa nasab, baik saat santai di ruang privat maupun di ruang publik. Para Habaib mengunggulkan perbincangan nasab, yang yang telah viral, pembelaan terhadap Walisongo (wa ushulihim wa furu’ihim) yang difitnah tidak memiliki keturunan. Pembelaan tersebut muncul dari para santri dan para aktivis kebangsaan yang merasakan mendapatkan sanad keilmuan dan pengalaman dari para Kiai Trah Walisongo.

Karena sikap santri, Kiai dan Gus tidak menanggapi isu yang viral ini, maka mereka ini tidak merasakan apakah berimplikasi pada sosial-politik mereka atau tidak? Dalam konteks ini, para Kiai trah Walisongo masih tetap mengajar dan bermasyarakat serta berada dalam zona nyaman beraktivitas tidak marah terhadap fitnahan yang menganggap Walisongo tidak memiliki keturunan. Selain itu, para Kiai dan Gus tidak marah kepada oknum Habaib yang tidak sopan terhadap Kiai dan Gus.  Justru Kiai dan Gus yang dikata-katain dengan nama nama hewan, tetap tidak marah dan tetap menghormati kepada para Habaib. Sebuah sikap ketawadluan yang luar biasa di kalangan Kiai dan Gus yang notabenya trah Walisongo, namun memilih membaur dengan masyarakat luas, meskipun direndahkan oleh oknum kalangan Habaib.

Jadi, sudah berlangsung satu abad, kemunculan seorang habib yang dihormati para Kiai dan Gus, justru mengatakan, walisongo itu bukan keturunan Nabi atau Walisongo tidak punya keturunan. Meskipun demikian, ada saja beberapa hitungan jari dari Habaib yang membela Walisongo dan berkunjung menjalin persaudaraan di kalangan para Kiai dan Gus. Para Kiai dan Gus yang dari keturunan Walisongo, masih tetap menghargai dan tidak tersinggung apalagi bersikap marah mereka yang menafikan kenasaban para Kiai dan Gus yang hampir bernasab kepada Nabi Muhammad.

Baca Juga: Menilik Makna Perdamaian dan Persaudaraan dalam Perjanjian Salatiga dengan Kacamata Q.S al-Hujurat Ayat 13

Sikap para Kiai dan Gus tanpa membanggakan trah Walisongo, karena disebabkan sikap beristiqamah menjaga pesan dari para leluhurnya (para Wali keturunan Walisongo) yang mengajarkan kepada para keturunannya dan umat Islam, agar tidak membanggakan nasab. Sikap ini merujuk pada ajaran Nabi Muhammad, supaya umat Islam tidak membangga-banggakan keturunan. Ajaran ini sudah sangat jelas, lugas dan tercatat dalam sejarah awal risalah Nabi Muhammad, bahwa beliau menentang tradisi Jahiliyah yang lebih mengunggul-unggulkan kenasaban, mengabaikan ilmu pengetahuan dan suka merendahkan orang lain.

Dalam Al Qur’an, Hadits dan karya ulama abad pertengahan (at Turas), sudah sangat masyhur diketahui oleh umat Islam, bahwa nisbah anak akan dilihat dari kemasyhuran seorang Bapak, tetapi nisbah anak tidak dapat dilepaskan dari tali ikatan “rahim” Ibu. Karenanya, secara ketersambungan kenasaban atau keturunan (geneologis) seseorang tidak akan dilepaskan dari kedua orang tua anak, yaitu Bapak dan Ibu. Sangat jauh dari panggang pemahaman yang benar, jika muncul pemahaman bahwa garis keturunan hanya milik ayah atau hanya milik ibu saja, sebab kedua orang tua sama sama berkeringat dan menikmati proses menjaga keberlangsungan keturunan bani Adam.

Secara empiris, tidak sedikit kehebatan kecerdasan dan sikap kepribadian yang baik pada diri seorang anak itu karena disebabkan dari kehebatan pola pendampingan seorang Bapak, namun kecerdasan dan karakter anak itu, banyak di pengarui dari sosok seorang Ibu yang mengandung dan membimbingnya.

Dalam sejarah keturunan bani Adam, bisa dibaca pada sosok yang berperan melanjutkan regenerasi dari Adam dan Hawa. Dari keberlangsungan regenerasi ini, setiap orang memiliki sejarah sendiri, baik ketika harus merujuk para leluhurnya atau keputusan baru untuk menandai sejarah hidupnya. Setiap orang juga memiliki relasi kekerabatan yang bisa dipertahankan sesama keluarga atau bisa juga diabaikannya karena lingkungan baru yang sangat menentukan dan berpengaruh terhadap pandangan dan sikap.

Sehubungan dengan ini, setiap orang bisa berbalik mengingkari dari tradisi keluarga atau menemukan arah baru yang sesuai dengan kebiasaan lingkungan yang membentuk kepribadiannya. Tradisi keluarga itu, ada yang baik dan buruk dan kebiasaan lingkungan itu, juga ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu, keturunan leluhur yang jauh dari zaman setiap orang akan dikalahkan dengan tradisi keluarga dan kebiasaan lingkungan yang terdekat dari setiap kehidupan seseorang. Meskipun demikian, kadang sejarah leluhur yang sudah ratusan tahun atau berabad abad tersebut, dapat menginspirasi seseorang untuk menghidupkan visi dan misi baru untuk menjalani hidup menjadi lebih baik. Dalam realitas sosial, yang terjadi justru ditemukan sebaliknya, berupa adanya sejarah leluhur itu akan mencederai prestasi dan kesuksesan seseorang, jika hanya untuk membanggakan diri dan menyombongkan diri.

Baca Juga: Esensi Puasa Ramadhan: Meminimalisir Prilaku Konsumtif

Hak Manusia Berperadaban

Suka atau tidak suka, Walisongo mengajarkan kepada para keturunannya untuk menyatu hidup Bersama masyarakat, menikah berdasarkan keabsahan Islam bukan berdasarkan kesukuan, menjaga kemuliaan ilmu, dan bersikap yang dapat membebaskan dan mencerahkan yang lain, menghindari perbudakan dan menjunjung tinggi harkat kemanusiaan dan persamaan. Ajaran Walisongo ini telah dipedomani secara turun temurun hingga menjadi prinsip hidup yang bersambung pada Nabi Muhammad. Hal ini yang menjadi alasan para trah Walisongo untuk tidak terpengaruh pola-pola keberagamaan yang menakut nakuti, suka mengutuk dan merendahkan pihak-pihak yang tidak sesuai dengan kehendaknya.   

Dari ajaran Walisongo inilah yang menguatkan eksistensinya di tengah masyarakat. Selain itu, tidak sedikit yang menjadi penggerak masyarakat, baik yang terjun secara langsung di tengah masyarakat atau melalui organisasi NU dan Muhamadiyah. Bagi yang di NU masih terlihat kekhasan pesantrennya dan serius dalam kajian ilmu keislaman abad pertengahan (at Turast). Sedangkan, bagi yang di Muhamadiyah terlihat sebagai priyayi yang banyak menjadi tenaga profesional dan hidup dikalangan terpelajar. Hal ini berbeda dengan, model kenasaban yang masih menjadi kebanggaan Habaib, dalam diskursus yang santai maupun yang serius, mereka selalu menceritakan kenasaban hingga lupa orang-orang yang dihadapannya adalah bernasab mulia, atau dalam banyak kesempatan tidak memperdulikan orang yang dihadapannya adalah bernasab yang kurang baik. Kemunculan Habaib yang memiliki kekhasan model yang berbeda beda ini, datang di Indonesia jauh setelah risalah Walisongo, tidak lepas dari perhatian para keturunan Walisongo, yaitu dengan menghormatinya ketika di rumah bersilaturahim ke keturunan Walisongo.

Para keturunan Walisongo juga menganggap kedatangan mereka ini, adalah seperti kedatangan keluarga yang dekat. Sikap yang dibangun keturunan Walisongo ini merupakan sikap yang positif sebagai bentuk atau gambaran peradaban keturunan Walisongo, seperti dalam hal menghormati harkat dan martabat kemanusiaan, terlebih dengan sosok yang kehadirannya membawa nama Nabi Muhammad. Keturunan Walisongo bukan sosok yang mudah dibohongi atau ditipu, namun karena menghormati manusia adalah perdaban tinggi yang diajarkan Nabi Muhammad dan Walisongo. Kebesaran hati para keturunan Walisongo merasakan senang dengan kehadiran Habaib yang di antara mereka ada yang bersikap rasial dan membanggakan Nasab. Hal ini tidak mempengaruhi eksistensi para keturunan Walisongo yang sudah mengakar di tengah kehidupan masyarakat.

Gerakan positif Walisongo di tengah masyarakat tetap berlansung dan berpengaruh bagi masyarakat luas. Sehubungan dengan teks keberkahan keturunan Walisongo di tengah realitas sosial ini, banyak yang memahami bagian dari bentuk kekeramatan keturunan Walisongo. Dalam banyak kejadian kisah bersama Habaib, misalnya, di antara mereka ada yang mencaci, membenci, dan merendahkan trah Walisongo, namun trah Walisongo tetap istiqamah menjaga peradaban Tauhid (monotheistic) dan kemanusiaan.

Jadi, penulis teringat dari garis ornamen yang penulis catat dari ornamen Syekh Ahmad Al Mutamakkin Kajen, yaitu kemuliaan manusia bukanlah sebuah kemuliaan yang tercermin dari kenasabannya, namun kemuliaan yang tercermin dari sikap berperadabannya yang tinggi. Nasab itu berguna untuk menjalin silaturahmi antar keluarga, mengingat latar belakang kesejarahan diri, dan menjadi data empiris asal usul diri untuk menginspirasi semangat upaya pencapaian harapan yang segaris dengan visi para leluhur: kemanusiaan dan peradaban yang tinggi.

Peradaban yang tinggi yang diperjuangkan oleh leluhur ini yang harus dipertahankan dan diperjuangkan untuk tetap bertahan dan berkembang lebih syiar lagi. Karenanya, jika ada keturunan Walisongo yang membanggakan nasab, berarti kembali ke belakang lagi, ke masa sebelum kelahiran datuknya, yaitu masa Jahiliah. Bukankah membanggakan nasab itu adalah tradisi Jahiliah dan sikap Jahiliah itu tidak akan menang, karena bersikap asal-asalan, menggelikan, memalukan, dan membuat tertawaan masyarakat. Karena bersikap jahiliah, maka tidak memahami siapa orang yang terdekat dan bertanggung jawab menyayangi dan menghormatinya. Akhirnya, bersikap Jahiliah itu akan memusuhi orang terdekatnya atau bahkan orang yang menyayanginya. Sikap Jahiliah, tidak akan memahami siapa lawan dan siapa kawan. Dalam pandangannya, hanya berupa “siapa yang bukan keturunannya adalah musuh. Biarlah ini menjadi pengalaman, ke depan sudah tidak sepantasnya beberapa Habaib membanggakan nasab, apalagi memusuhi kerabat sendiri. Apa artinya membanggakan nasab di hadapan kerabat terdekat dan kerabat terjauh, yaitu kerabat dari satu Adam. Sejarah Adam adalah wujud sejarah kenabian yang telah disempurnakan oleh Nabi sesudahnya (Nabi Muhammad) sampai pada kita semua. Kesemuanya ini, memiliki tujuan yang tinggi: menjadi manusia yang berperadaban, yang terintegrasi antara peradaban tauhid dan kemanusiaan.

Baca Juga: Menghidupkan Kembali Gagasan Zakat Produktif KH. Sahal Mahfudz

https://nujateng.com/2023/06/bisa-saja-imam-mahdi-dari-trah-mastur-walisongo-yang-menjaga-peradaban-tinggi/

Author: Zant