Cak Ipul dan Ketelatenannya Mengkader Para Penulis Muda

Cak Syaifullah Ibnu Nawawi nama lengkapnya. Cak Ipul, demikian para keder memanggilnya. Beliau adalah sosok jurnalis NU tulen. Mengabdi di Majalah AULA NU sejak tahun 2000. Artinya, sudah 24 tahun beliau menjadi jurnalis lantas kepala redaktur di majalah legendaris ini. Usia pengabdian yang sama dengan umur putrinya, Mbak Farah. Sejak beberapa tahun silam, Cak Ipul juga menjadi pimpinan redaktur di NU Online Jatim.

 

Sejak awal mengenalnya, pada 2005, ketika pertama kali saya menjadi jurnalis di Majalah AULA NU, hingga hari ini kesan terhadap kepribadiannya tidak berubah: orangnya pendiam, kalau bicara cenderung kalem, grapyak dan ngemong para juniornya.

 

Ngemong dalam arti sebenarnya: telaten mengajari para jurnalis pemula hingga menjadi mahir, sabar menempa junior-juniornya soal teknik wawancara, editing hingga finishing tulisan. Waktu saya menjadi jurnalis di Majalah AULA, 2005-2010, ketika tulisan saya compang-camping, Cak Ipul memberi arahan. Begini cara nulis yang baik, begitu cara ngedit yang oke.

 

Jangan lupa, Cak Ipul suka, bahkan menjadi hobi, memberi hadiah bagi para kader-kadernya. Kalau Cak Ipul keliling Jatim, baik naik bis umum, Kijang LGX hingga terakhir berganti Honda Jazz, bisa dipastikan beliau menenteng bungkusan berupa hadiah/kado bagi para junior-juniornya yang dia temui. Datang ke sebuah kota, ngajak kopdar jaringan anak-anak muda yang menjadi kontributor NU Online Jatim, ngasih sangu sekalian hadiah.

 

Sandal Lily klasik warna coklat yang saya pakai pada 2023, adalah termasuk hadiah dari beliau. Saban tahun dikasih. “Pokoknya kalau sandal Lily-mu sudah tipis dan jika dipakai licin, langsung kontak saya ya, biar saya kirim lagi.” Dan, jadilah saya setiap lebaran punya 2 pasang sandal Lily coklat klasik. Sepasang beli, sepasang hadiah dari Cak Ipul.

 

Ketika berjumpa dengan para juniornya ini, yang telah dia kader, Cak Ipul tidak mentang mentang memanggil nama secara langsung. Melainkan disematkan panggilan mas/mbak di depan nama muridnya.

 

Bahkan, setelah saya dilantik menjadi rektor pada Juli 2018, dalam obrolan via chat, telepon, maupun berjumpa secara langsung, Cak Ipul mengubah panggilan ke saya menjadi Mas Rektor. Saya protes, mbokya jangan manggil demikian dong cak. Pakai sapaan kayak biasanya saja, wong saya ini junior njenengan.

 

Nggak apa apa, karena memang posisi sampeyan demikian saat ini, maka ya aku memanggilmu begini merupakan sesuatu yang pantas.

 

*) Mantan Redaktur Majalah AULA yang saat ini Menjabat Rektor Universitas Al-Falah As-Sunniyah (UAS) Kencong, Jember 


https://jatim.nu.or.id/rehat/cak-ipul-dan-ketelatenannya-mengkader-para-penulis-muda-OQuUr

Author: Zant