Cerita Wapres Pimpin Tahlil Miknya Mati

Sudah beberapa kali saya mendapati momen “humor” dalam suasana duka. Ini tentu saja mengherankan. Tetapi begitulah kenyataannya, humor seperti makhluk “halus” yang dapat menyelinap dalam suasana apapun. Mungkin karena humor menjadi watak kehidupan yang termaktub dalam Al-Qur’an, “Innamal hayatud dunya la’ibun wa lahwun.. “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau..” 

Selain dalam surah Muhammad ayat 36, Al-Qur’an juga menyebut bahwa sifat dunia itu permainan dan senda gurau dalam dalam surah al-Hadid ayat 20, “I’lamuu annamal hayatud dunya la’ibun wa lahwun… Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau…”

Termutahir saya mendapati momentum humor saat takziyah Prof.  KH Ali Yafie, di Tangerang Selatan. Sumber “humornya” bukan main-main, yaitu seorang Wakil Presiden RI. 

Pukul 12 persis Wapres KH Ma’ruf Amin tiba di rumah duka. Setelah bersalaman shohibul mushibah dan  beberapa tamu, beliau masuk dan langsung duduk di depan jenazah. Tampak di samping kiri beliau ada sang istri, di sisi kanan depan ada mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan lain-lain. Ruangan penuh.

Sejurus setelah duduk Kiai Ma’ruf Amin langsung tahlil, menjadi pemimpinnya, sekitar 50-an orang di dalamnya mengikuti.

Sesi tahlil lancar. Suasana khidmah dan khusyuk terasa. Terlebih saat berdoa, wajah Kiai Ma’ruf tampak bersedih. Namun, doa beliau yang agak panjang mulai terganggu mik yang ngadat. Beberapa kalimah doa terdengar, tetapi setelahnya sayup-sayup. Begitu berulang kali. 

Setelah doa selesai, Pak Wapres mengembalikan mic kepada pembawa acara Kiai Muhammad Suaib Tahir (Sekjen PB Darud Da’wah Wal Irsyad). Namun kemudian pembawa acara meminta wakil presiden menyampaikan sepatah dua patah kata kenangan bersama almagfurlah Kiai Ali Yafie. Mik yang sama disodorkan kembali, yang saat berdoa sudah sekali mati. Wapres menerima mik lagi.

Kalimat demi kalimat Kiai Ma’ruf Amin tersampaikan dengan jelas. Mik lancar. Setelah memasuki menit kedua mulai mati, lalu hidup lagi. Mati lagi. Demikian berulang kali.

Namun Kiai Ma’ruf melanjutkan kata sambutannya. Beliau seperti menikmati kenangan-kenangan bersama Kiai Ali Yafie. “Beliau adalah guru saya, senior saya..” Setelah itu mik mati lagi. Namun seperti biasa, Kiai Ma’ruf tenang. 

Tidak lama mik yang baru disodorkan. Kiai Ma’ruf menerimanya. Namun tak lama kemudian, beliau mengakhiri sambutan. Ketika menyodorkan mik baru kepada pembawa acara, Kiai Ma’ruf berkata, “Sudah selesai kok mik baru baru datang?” Kiai Ma’ruf berkata itu sambil senyum, tidak ada nada atau air muka kecewa. Beberapa pentakziyah tampak ikut tersenyum sebab peristiwa itu. (Hamzah Sahal)

Download segera! NU Online Super App, aplikasi
keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung
aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

https://www.nu.or.id/humor/cerita-wapres-pimpin-tahlil-miknya-mati-zexOx

Author: Zant