Kegelisahan Para Kiai NU terhadap Minimnya Generasi Penerus Nahdlatul Ulama

Keresahan para kiai kampung dalam beberapa diskusi dalam bilik pojok santri kontemporer menyikapi meningkatnya angka dari beberapa lembaga survai pemilu pada kelompok partai yang di sinyalir sangat tidak sejalan dengan para kiai yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU) dan merosotnya angka pemilih milenial pada generasi Nahdlatul Ulama menjadi sorotan dan persoalan serius para ulama.

Penulis mencoba mengkaji sebagai bentuk telaah bersama untuk mendiskripsi ulang   program pada zaman orde baru dan hingga ini menjadi primadona para perempuan penggerak di lingkungan NU yaitu gerakan Keluarga Berencana dan kesetaraan gender, sehingga kampenye dalam hal ini sangat gencar dibandingkan pemerintah itu sendiri, bahkan melebihi aspektasinya.

Sementara gerakan radikalisme yang aktif mendomonasi media sosial bahkan pada media TV dan media mainstream lainnya semua mengabarkan populasi anggota dan simpatisan radikal selalu bertambah seiring dengan waktu yang terus berputar, karena ada penekan tidak boleh membatasi anak, dan beristri lebih dari satu. 

Keberhasilan Gerakan KB

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Pengaturan kehamilan dilakukan dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi. 

Mengatur kehamilan bukan larangan punya anak banyak, tetapi ada batas aturan pernikahan yang harus dijalankan. Bahkan umumnya orang nikah menunggu mapannya sebuah pekerjaan karena tuntutan kebutuhan yang semakin melangit, pada akhirnya usia produktif yang seharusnya mempunyai keturunan banyak, dibatasi dengan dua anak cukup. Keberhasilan kampenya keluarga berencana ini terjadi pada warga negara yang taat terhadap imbauan anjuran dan program pemerintah adalah warga NU.

Maka, populasi warga negara yang menyatakan dengan tekadnya mempertahankan NKRI harga mati akan terus semakin berkurang, seiring dengan usia yang tidak lagi produktif dan ditambah ada ancaman dari para petugas kesehatan di desa, usia di atas 40 rentan dengan kematian saat melahirkan. Sedangkan para kaum yang selalu melawan dan menginginkan perubahan ideologi negara tidak dibatasi populasinya, bahkan penekan pada jamaahnya untuk mempunyai anak banyak, kalau istri udah udzur didorong untuk beristri lagi.

Gerakan Kesetaraan Gender

Perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini di masa penjajahan Belanda, telah banyak menanamkan benih kepemimpinan perempuan. Karena dia mendorong pendidikan perempuan juga harus mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki. Akhirnya perjuangannya bisa dinikmati perempuan Indonesia sekarang ini. Namun kesetaraan gender yang di perjuangkan menjadi gerakan melawan kodrat dan kesamaan dalam hal semua. Perjuangan kesetaraan gender sangat efektif untuk menyadarkan wanita berusaha menjadi lebih baik dalam berbagai macam hal, tetapi menjadi ancaman pada lelaki untuk menambah keturunan seperti apa yang di sabdakan kanjeng nabi ‘Fainni ubahikumul ummami yaumal qiyamah’ Karena tekanan bahwa tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan kalau laki-laki boleh poligami maka wanita akan poliandri.

Penutup

Populasi penduduk yang terus bertambah, akan berdampak pada demografi yaitu pertumbuhan penduduk, tempat, dampak, dan faedahnya. Tetapi pada alam demokrasi yang akan mempengaruhi sistem vote, maka dipastikan yang banyak yang menang dan dapat menguasai semua, oleh mayoritas voting tanpa mengindahkan kebijakan dan kemampuan serta kelayakan. Maka harus kita sadari semakin kita terhegemoni dengan aturan dan keadaan, maka kekalahan akan terlihat di depan mata dan semakin akan berkurangnya warga dan anggota serta simpatisan NU. Wallahu a’lam bis shawab

KH Munib Abd Muchith, Katib PWNU Jateng, Alumni Lirboyo ’92 dan Al-Itqon Bugen, Kota Semarang 


https://jateng.nu.or.id/opini/kegelisahan-para-kiai-nu-terhadap-minimnya-generasi-penerus-nahdlatul-ulama-k6CTD

Author: Zant