Ketika Beragama Hanya di Pinggirnya

Mengapa ketika seseorang merasa kurang dalam urusan dunia lalu hatinya gelisah dan ingin mengejar kekurangan atau ketertinggalannya, tapi di sisi lain ada orang yang ketika urusan agamanya dirasa kurang lalu menganggapnya sebagai hal biasa sambil berkata “yang itu mah bisa ditambal di hari tua?”.

Memang, di antara umat Islam ada orang-orang yang beragama secara total, namun ada pula orang-orang yang beragama di pinggirnya saja sehingga ketika memperoleh kebajikan hatinya merasa puas dan ketika ditimpa cobaan lalu putus asa dan berbalik ke belakang meninggalkan ajaran agamanya.

   
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 11:

وَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يَّعۡبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرۡفٍ‌ ‌ۚ فَاِنۡ اَصَابَهٗ خَيۡرٌ اۨطۡمَاَنَّ بِهٖ‌ ۚ وَاِنۡ اَصَابَتۡهُ فِتۡنَةُ اۨنقَلَبَ عَلٰى وَجۡهِهٖ‌ۚ خَسِرَ الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةَ ‌ ؕ ذٰ لِكَ هُوَ الۡخُسۡرَانُ الۡمُبِيۡنُ

Artinya:
Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata. (QS Al-Hajj : 11)

Penulis: H Ahmad Niam Syukri Masruri


https://jateng.nu.or.id/taushiyah/ketika-beragama-hanya-di-pinggirnya-zj9JR

Author: Zant