Mengenal Filsafat dan Estetika

Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, seperti bahasa Inggris, bahasa Yunani, dan bahasa Arab. Dalam bahasa Inggris, filsafat itu diambil dari kata “philosophy”. Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah “philein” atau “philos” dan “sofien” atau sophy”. Adapun dalam bahasa Arab, filsafat itu berasal dari kata “falsafah” yang artinya al-hikmah atau bijak bestari.

Akan tetapi, pedanan kata-kata di atas pada awalnya berasal dari bahasa Yunani yaitu “Philos” yang artinya cinta, dan “Sophia” yang artinya kebijaksanaan. Oleh karena itu filsafat dapat diartikan sebagai cinta kebijaksanaan yang dalam bahasa Arabnya diistilahkan dengan al-hikmah. 

Para ahli filsafat disebut filosof, yakni orang yang mencintai kebijaksanaan dan kebenaran. Filosof bukan orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yang sedang belajar mencari kebenaran dan kebijaksanaan.

Mencari kebijaksanaan bermakna menelusuri hakikat dan sumber kebenaran itu sendiri. Berhubung alat untuk menemukan kebijaksanaan adalah akal yang merupakan sumber utama dalam berpikir, maka kebenaran filosofis berkaitan dengan kebenaran berpikir yang sesungguhnya. Oleh karena itulah, akal sering diposisikan sebagai media untuk memahami makna dari sebuah kebenaran.

Menurut Sutardjo A. Wiramihardja (2006: 10), filsafat diartikan sebagai pengetahuan tentang cara berpikir atas gejala sesuatu pada sekalian alam. Berhubung pencarian kebenaran tak pernah berujung dengan kepuasan, apalagi memutlakan kebenaran,  maka untuk menentukan suatu yang “sudah” dianggap benar pun masih diragukan kebenarannya. Oleh karena itu, dalam filsafat tidak dikenal kata puas dalam mencari kebenaran karena kebenaran itu sendiri akan mengikuti situasi dan kondisi dalam pikiran manusia.

Filsafat juga diartikan sebagai pencarian kebenaran melalui alur berpikir yang sistematis. Artinya, perbincangan segala sesuatu harus ditempuh secara tertatur dengan mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapan dalam pencarian kebenaran mudah diikuti. Filsafat juga diartikan sebagai seni kritis yang tidak pernah puas diri, dan tidak pernah membiarkan sesuatu hal sebagai sesuatu yang sudah selesai. Dengan demikian, filsafat dapat diartikan sebagai cara berpikir kritis tentang segala ilmu pengetahuan.

Adapun estetika berasal dari bahasa Yunani yaitu “aistheon”, “aesthetica” yang artinya semua hal yang dapat diserap oleh panca indera. Sementara dalam bahasa Inggris, estetika berasal dari kata aesthetica  yang dipopulerkan oleh Alexander G Baumgarten (1714-1762) sebagai sesuatu kajian terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan. Sementara Leibniz (1646-1716) mengartikan estetika sebagai wahana untuk membedakan antara pengetahuan yang bersifat intelektual dan ilmu pengetahuan yang bersifat inderawi. 

Pandangan umum menyatakan bahwa estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Berhubung keindahan itu bersifat relatif, maka keindahan yang mutlak (yang hakiki dan sebenar-benarnya) adalah segala sesuatu yang berasal dari ciptaaan Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Seorang filosof, Socrates mengungkapkan bahwa di balik semua benda yang indah itu terdapat keindahan yang dibangun oleh keindahan benda itu sendiri yang benar-benar indah dalam arti sesungguhnya. Sementara, murid Socrates yaitu Plato berpendapat bahwa keindahan dapat diperoleh melalui “cinta”. “Cinta” adalah sesuatu yang membangun keyakinan akan adanya keindahan yang ideal. 

Plato berpandangan, untuk menyingkap keindahan yang ideal, manusia harus menjauhkan diri dari sikap “salah” dan berupaya untuk mengosongkan pikiran, membersihkan dosa, dan mengembalikan kesucian jiwa untuk memperoleh upaya-upaya dalam memperoleh kebenaran yang sejati, yaitu keindahan abadi. 

Sementara, filosof yang lainnya yaitu Aristoteles beranggapan bahwa keindahan suatu benda hakikatnya tercermin dari keteraturan, kerapihan, keterukuran, dan keagungan benda itu sendiri. Sama seperti halnya ungkapan Plato yang beranggapan bahwa keindahan itu bersatu dalam pikiran, dan keindahan yang secara hakikat lebih indah daripada kenyataan. 

Perbedaan yang mendasar antara Plato dan Aristoteles dalam memandang keindahan terletak pada wujud hakikat benda itu sendiri. Menurut Plato, keindahan ideal adalah keindahan yang selalu membawa pada keindahan yang sifatnya tidak terbatas. Sedangkan menurut Aristoteles, keindahan itu harus bersifat bijaksana, yakni  mulai menawarkan simbol-simbol keindahan pada setiap bentuk wujud benda.

Referensi:
Agus Sachari. 2002. Estetika Makna, Simbol dan Daya. Bandung: Penerbit ITB.
Dharsono S. Kartika, dan Nandang G. Perwira. 2004. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.
Solomon, C.R & Higgins, K.M. 2002. Sejarah Filsafat (Penerjemah: Saut Pasaribu) Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut.

https://jabar.nu.or.id/opini/mengenal-filsafat-dan-estetika-RXrMv

Author: Zant