Mengenal Pesantren Damaran Kudus 

Ketika berbicara tentang Kudus, pasti yang langsung teringat bagi banyak orang adalah Masjid Menara Kudus peninggalan salah satu wali dari kesembilan wali yang sangat masyhur di Pulau Jawa yang terkenal dengan sebutan Wali Songo atau Wali Sembilan yaitu Sayyid Ja’far Shadiq atau  Kanjeng Sunan Kudus. Selain Masjid Menara Kudus, sebenarnya Kota Kudus masih menyimpan banyak peninggalan bersejarah yang bisa didapati sampai sekarang. Salah satunya adalah pesantren yang umurnya lebih dari 2 abad lebih (1780?) yang terletak di sebelah barat Masjid Menara Kudus. Masyarakat setempat biasa mengenalnya dengan sebutan Pondok Damaran karena terletak di Desa Damaran nomor 78. 

Pesantren Damaran kemudian diberi nama Pesantren Mazroatul Ulum ini bisa jadi adalah pesantren tertua di Kudus. Karena jika dilihat dari masa hidup sang pendiri pesantren adalah cicit dari Mbah Kiai Mutamakkin Kajen Maroyoso, Pati yang bernama KHR Asnawi sepuh. Seorang ulama besar saat itu yang diambil menantu oleh tokoh keturunan Kanjeng Sunan Kudus yang kemudian bermukim di Desa Damaran untuk mendirikan pesantren. Makam Mbah Kiai Asnawi sepuh ini terletak di Area pemakaman Kanjeng Sunan Kudus dan di batu nisannya bertuliskan syaikhul masyayikh tanda bahwa pada masanyanya adalah ulama besar dan punjer bagi para ulama.

Di generasi kedua, Pengasuh Pesantren Damaran adalah KHA Sholeh. Putra dari KHR Asnawi sepuh yang juga jadi ulama besar di masa itu. Salah satu muridnya yang nyantri di Pesantren Damaran kala itu adalah santri dari Jepara yang bernama Sholeh yang di kemudian hari menjadi kiai besar dan mashur dikenal dengan nama Mbah Kiai Sholeh Darat Semarang. 

Di generasi ketiga, Pengasuh Pesantren Damaran adalah Mbah KH Ma’shum adalah putra KHA Sholeh. Di masanya salah satu ulama yang pernah nyantri di Pesantren Damaran adalah KH Ma’shum Lasem. Di dalam buku biografi KH Ma’shum Lasem tercatat sesudah nyantri di KH Nawawi Jepara Kiai Ma’shum melanjutkan ke Pesantren Damaran yang kala itu diasuh oleh KH Ma’shum Damaran. Seorang kiai besar di Kudus yang mempunyai nama sama dengan Kiai Ma’shum Lasem.

Di Generasi keempat, Pengasuh Pesantren Damaran adalah KHR Fauzan. Putra dari KH Ma’shum Damaran. KHR Fauzan adalah salah satu santri kesayangan KH Hasyim Asy’ari Jombang. Kiai Fauzan diberikan Sanad Kitab Ihya Ulumuddin, sohih Bukhori, dan Sohih Muslim oleh KH Hasyim Asy’ari dengan memakai nama panggilan Anakku dan bahkan ditulis langsung oleh KH Hasyim Asy’ari dengan tulisan tangannya. Bukan hanya itu, KHR Fauzan juga tercatat sebagai Rais di PBNU di masanya. Hal ini terungkap ketika kunjungan KH Said Aqil Siroj ‘napak tilas leluhur’ ke Pesantren Damaran saat dirinya masih menjadi Ketua Umum PBNU dengan adanya sebuah tulisan resmi SK saat itu.


Kegiatan Pesantren Damaran Kudus, ngaji kitab kuning (Foto: Dok)

Di generasi kelima, Pengasuh Pesantren Damaran adalah KHR Asnawi seorang ulama besar dan salah satu pendiri NU yang masih kerabat dengan KHR Fauzan. Di beberapa catatan yang berada di Pesantren Damaran di masanya KH Arwani Amin pernah menjadi wakil pengasuh dan sesudah Wafatnya KHR Asnawi di Tahun 1959. KH Arwani Amin menjadi Pengasuh Pesantren Damaran sampai KH Arwani Amin mendirikan Pesantren Yambu’ul Qur’an. 

Generasi berikutnya, Pengasuh Pesantren Damaran adalah KHA Nur Muttaqien. Murid kepercayaan KH Arwani Amin yang menikah dengan salah satu putri Kiai Pengasuh Pondok Damaran. Sesudah wafatnya KHA Nur Muttaqien, kepengasuhan Pesantren Damaran diserahkan kepada KH Baha’uddin Nur Salim  salah seorang Rais PBNU saat ini.

Jika merunut dari masa awal pendirian Pesantren Damaran hingga sekarang, maka pesantren Damaran bisa jadi adalah salah satu pondok pesantren tertua Kudus yang masih ada, atau bahkan tertua di Kudus dan sekitarnya. KHA Mutamakkin Kajen lahir sekitar 1645 Masehi. Sedangkan KH Asnawi sepuh adalah cicitnya. Tentu masa Kiai Asnawi belum terlalu jauh dari era KH Mutamakkin. KH Asnawi sepuh adalah putra dari Bunyai Jiroh Hasan Wira’i. Bunyai Jiroh adalah putri Bunyai Alfiah Ilyas. Bunyai Alfiah adalah putri KH Mutamakkin Kajen seorang wali Allah yang masyhur di daerah Kajen Pati.

 

Meski sekarang Pesantren Damaran 78 menjadi Pesantren Al-Qur’an, tapi sejarah membuktikan, saat pengurusnya dipimpin Ibu Nyai Munijah, Damaran 78 Kudus pernah dikenal sebagai pesantren kitab sebagaimana Pesantren Sarang Rembang, Lirboyo Kediri yang juga dikenal demikian.

Saat diampu oleh Kiai Fauzan, KH Sya’roni Ahmadi mengaku sering digendong ayahnya untuk ngaji Kitab Fathul Qarib ke Damaran. Saat itu usianya masih 8 tahun. Kiai Sya’roni mengenang, saat kecil dirinya hanya membawa kitab dan ngaji ke Kiai Fauzan Damaran lalu tidur dan pulang karena memang belum paham kitab kuning. Selain Fathul Qarib, kitab yang dibaca Kiai Fauzan saat itu juga membaca Kitab Fathul Mu’in.

Karena itulah Kiai Sya’roni menyebut Pesantren Damaran Wetan (diasuh Kiai Fauzan) sebagai pesantren kitab, dan Pondok Damaran Kulon (diasuh oleh Kiai Hambali/Kiai Kamal, paman Kiai Fauzan karena beliau adik KH Ma’shum ayah Kiai Fauzan sebagai Pesantren Qur’an.
 

Pengirim: Moh Baha’uddin


https://jateng.nu.or.id/fragmen/mengenal-pesantren-damaran-kudus-IDiRz

Author: Zant