Pengalaman Perjalanan Umroh Kontributor NU Online Jateng (1)

Jika kamu ingin mengunjungi kota-kota yang ada di dunia, maka Kota Makkah dan Madinah saya sarankan perlu masuk dalam daftar di buku catatanmu. Semua orang Muslim di dunia tentunya ingin berziarah ke Kota Makkah dan Madinah. Bukan tanpa alasan dua kota ini dijadikan sebagai tempat favorit untuk didatangi. 

Kota Makkah dan Madinah adalah dua kota suci, tanah yang mulia dan banyak keutamaan ketika beribadah di sana. Selain itu, dua kota ini juga merupakan tempat bersejarah bagi umat Islam. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah, serta ketika wafat dimakamkan di Madinah.

Saya Khairul Anwar kontributor NU Online Jateng yang saat ini masih menempuh kuliah pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan termasuk orang yang beruntung karena bisa menginjakkan kaki secara langsung di Kota Madinah dan Makkah. Saya, bapak, dan ibu berkesempatan untuk umroh bersama Biro Sorban Tours Kabupaten Pekalongan. Sebanyak 45 jamaah bertolak menuju ke tanah Suci pada Ahad (4/9/2022) menggunakan pesawat Saudi Arabia Airlines dari Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi.

“Alhamdulilah sudah sampai,” ucapku lirih ketika pesawat mendarat di Bandara Jeddah.
Setelah dari Jeddah, kami bertolak ke Madinah, kota di mana Masjid Nabawi yang didirikan Nabi Muhammad SAW sebagai ikonnya. Perjalanan dari Jeddah ke Madinah kalau ingatan nggak khilaf, memakan waktu sekitar 5 jam menaiki bus. Kami bertolak dari bandara Jeddah pukul 3 pagi ketika hari masih cukup gelap. Ketika waktu subuh sekitar pukul 5 pagi, kami mampir di sebuah masjid untuk menunaikan shalat subuh. 

Saya senang sekali karena untuk pertama kalinya bisa melihat langsung Kota Madinah. Ketika dulu waktu saya duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah (MIS) Tirto, Kabupaten Pekalongan, saya hanya bisa melihat Kota Madinah di buku Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Sekarang impian itu, impian saya untuk berziarah ke tanah suci, telah tercapai. 


Khairul Anwar (paling kanan) (Foto: Dok pribadi)

Singkat cerita, kami tiba di Hotel Hayyat Madinah sekitar pukul 9 pagi waktu Arab Saudi. Kala itu, cuaca panas menyelimuti Kota Madinah. Panasnya Madinah saya rasakan ketika berjalan kaki menuju ke Masjid Nabawi. Jarak hotel kami dengan pintu masuk pelataran Masjid Nabawi hanya sekitar 100 meter. Meskipun panas, tapi panas di Madinah sama sekali tidak bikin gerah atau berkeringat. 

“Masyallah, Allahu Akbar,” batinku ketika melihat Masjid Nabawi yang begitu luas. Saat memasuki pelataran masjid pada siang hari, kami disuguhi pemandangan ratusan payung raksasa yang memenuhi halaman Masjid Nabawi. Payung-payung itu mekar saat pagi hingga sore bak bunga. Shalat Dhuhur adalah shalat pertama saya dan juga rombongan lain ketika berada di Masjid Nabawi. 

Singkat cerita, selama kurang lebih empat hari di Kota Madinah, selain Masjid Nabawi, kami juga mengunjungi tempat-tempat istimewa nan bersejarah lainnya, di antaranya adalah Makam Nabi Muhammad SAW, Raudhah, Makam Baqi, Jabal Uhud, dan Kebun Kurma.

Kami berjalan kaki saat berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW, Raudhah dan Makam Baqi, sebab ketiga tempat ini masih berada di kompleks Masjid Nabawi, sehingga jaraknya cukup dekat dari hotel tempat kami menginap. Makam Nabi Muhammad SAW dan Raudhah berada di dalam Masjid Nabawi, sedangkan Makam Baqi terletak di bagian timur Masjid Nabawi. 

Beribadah di Kota Madinah, khususnya di Masjid Nabawi adalah impian semua umat muslim di dunia. Sebab, melaksanakan shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat di masjid lain. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan Abu Hurairah. “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR Bukhari).

Di area Masjid Nabawi, kondisi akan sangat ramai saat memasuki shalat lima waktu. Para jamaah yang datang dari penjuru bumi, biasanya akan berbondong-bondong merapat ke Masjid Nabawi. Mereka bergerak dari kamar hotel dengan sudah berpakaian rapi, layaknya orang hendak mau menghadap sang khalik. 

Nah di saat seperti itu, biasanya lift-lift hotel akan penuh diisi oleh para jamaah. Hal ini pun membuat saya terkadang mengantri untuk bisa turun ke hotel lantai bawah. Tapi, itu bukan menjadi persoalan. Tips buat kamu yang sedang umroh, kalau mau ke masjid nabawi, usahakan datang minimal 30 menit sebelum adzan, karena setelah adzan, biasanya lift hotel akan sangat ramai dan jalan menuju ke masjid, akan cukup padat oleh orang-orang pilihan Allah SWT.

Di luar waktu shalat rawatib, kondisi di Masjid Nabawi terkadang terlihat cukup lengang. Mungkin karena bukan musim haji. Tapi di beberapa titik, saya melihat kondisi masih ramai meski tidak dalam waktu shalat. Seperti di area menuju Raudhah, area yang disebut-sebut sebagai taman surga. Raudhah adalah tempat di antara makam dan mimbar nabi saw. Tempat yang ditandai dengan karpet hijau dan tiang-tiang putih.

 
Saya melihat antrian yang cukup panjang untuk masuk ke Raudhah selepas shalat Asar. Di area Raudhah para askar (petugas penjaga) mengatur para jamaah yang masuk. Sistem buka tutup pun diterapkan. Jadi kita tak bisa berlama-lama beribadah di dalam sini, kita juga harus memikirkan saudara kita dari segala penjuru dunia yang juga mau berdoa di Raudhah. Raudhah merupakan salah satu tempat favorit bagi jamaah ketika mereka berada di Madinah, selain tentunya makam Rasulullah saw. 

Saya pertama kali masuk Raudhah bersama bapak, dan dua jamaah lain pada jam 3 pagi. Di dalam Raudhah, rasanya tenang dan damai. Selain karena tempatnya yang sangat istimewa, kondisi di dalam raudhah yang sejuk disertai dengan lantunan dzikir dari para jamaah lain, membuat saya betah untuk berlama-lama duduk di Raudhah. 

Selama di Masjid Nabawi, selain dapat merasakan hawa ‘spesial’ di makam Rasulullah saw dan Raudhah, saya juga merasakan hawa dingin di area Masjid terbesar kedua di dunia ini. Baik di dalam ataupun di luar masjid. Kala di luar masjid, AC ada di hampir tiang penyangga. Kenikmatan lainnya yang bisa saya rasakan adalah dapat mengonsumsi kesegaran air zam-zam yang dingin. Galon-galon dan gelas tersedia di tiap sudut masjid. Sehabis shalat, biasanya saya mengambil air zam-zam tersebut dan diminum di saat itu juga atau dibawa ke hotel. (bersambung)


https://jateng.nu.or.id/sosok/pengalaman-perjalanan-umroh-kontributor-nu-online-jateng-1-0JUHF

Author: Zant