Perjalanan Intelektual Ning Iqlimah Pesantren Nurul Hidayah Tarik Sidoarjo

Sidoarjo, NU Online Jatim

Dewi Iqlimah merupakan salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah Putri dan Nurul Hidayah Tarik Sidoarjo. Di lingkungan Fatayat NU, Ning Iqlimah sapaan akrabnya dikenal sebagai sosok yang mencintaimu ilmu dan mudah bergaul. Ning Iqlimah mulai nyantri setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 2000 di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik dibawah asuhan KH Masbuhin Faqih.

 

“Waktu akan masuk pondok, ada perbedaan di lingkungan keluarga. Ayah dan ibu ingin saya mondok saja, akan tetapi kakak-kakak menginginkan saya mondok tapi juga tetap sekolah formal,” katanya kepada NU Online Jatim, Jum’at (08/12/2023).

 

Di Mambaus Sholihin ini, perempuan kelahiran Gresik, 31 Januari 1988 itu nyantri selama tujuh tahun. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Madrasah Aliyah (MA) selama enam tahun dan mengabdi satu tahun. Iqlimah mulai mengaji kitab fiqih dasar mulai Mabadil Fiqh, Taqrib, Fathul Qarib, Bajuri dan Minhaj al-Thalibin.

 

Sementara kitab nahwu yang dipelajari mulai dari Jurumiyah hingga Alfiyah dan Ibnu Aqil. Masih banyak sekali kitab yang dipelajari Iqlimah seperti Bulughul Maram, Irsadul Ibad, Ihya Ulumuddin dan lain-lain.

 

“Kiai Masbukin Faqih adalah sosok panutan saya. Ingat betul ketika pertama nyantri dan bertemu beliau. Pesan yang disampaikan adalah ketika sudah berangkat ke sini maka niatnya cuma satu mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan,” kisahnya.

 

Kiai Masbukin Faqih mengingatkan untuk tidak memikirkan nanti akan jadi apa. Yang terpenting bagi santri adalah mencari ilmu karena Allah. Sambil mengabdi, Iqlimah sempat mengenyam kuliah di Inkafa Gresik selama satu tahun.

 

“Usai tujuh tahun di pesantren saya diantar ayah ke Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta dan tinggal di asrama. Namun saya tinggal di asrama cuma satu tahun. Karena setelah itu pindah ke Pesantren Tahfidz Al Qur’an Nur Medina,” ucapnya.

 

Ning ​​​​​​​Iqlimah menjelaskan pesantren tersebut milik seorang ustadz yang istrinya adalah adik ipar dari KH Ahsin Sakho Muhammad yang saat itu menjabat sabagai rektor di IIQ. Di pesantren ini Ning ​​​​​​​Iqlimah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan mendapat syahadah dari pesantren tersebut. Di IIQ Ning ​​​​​​​Iqlimah sangat mengagumi dosen-dosen yang mengajarnya karena keilmuan dan akhlaknya.

 

“Pascasarjana saya mendapat beasiswa kemenag program Pendidikan Kader Ulama (PKU) jurusan ushul fiqh ditempatkan di IAIN Cirebon dan Ma’had Aly. Sementara tinggalnya di Babakan Ciwaringin Pesantren Mualimat,” tandasnya.

 

Selain mengajar di Ponpes Al-Hidayah Tarik, Ning ​​​​​​​Iqlimah juga merintis pesantren baru bersama suaminya Muhammad Said Asy’ari yang juga pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sidoarjo. Pesantrenya ia beri nama Nurul Hidayah. Kedua pesantren di atas masih dalam naungan Yayasan Pesantren Al-Hidayah Tarik Sidoarjo.

 

Tidak hanya mengajar di dua pesantren tersebut, Iqlimah juga mengajar di sekolah formal, di MI Al-Hidayah Tarik dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Unggulan Al-Hidayah Tarik. Juga aktif mengisi kajian rutin Fatayat dan ibu-ibu di desa-desa.


https://jatim.nu.or.id/metropolis/perjalanan-intelektual-ning-iqlimah-pesantren-nurul-hidayah-tarik-sidoarjo-H6E78

Author: Zant