Perjanjian Pra Nikah 

Umar Ridha Kahalah, penulis buku “A’lam al-Nisa”, buku Ensiklopedia ulama Perempuan di Dunia Arab-Islam, menginformasikan kisah perdebatan yang menarik tentang kecantikan antara Sukainah dan Aisyah: 

كانت سُكَينة مِنْ أَجْمَلِ نِسآء عَصْرِهَا. فَقَالَتْ ذَاتَ يومٍ لِعَائِشَة بِنتِ طَلحة : اَنا أَجْملُ مِنك. وَقالت عائشة : بَل انا أَجْمَل. فاختَصَمَا الى عُمَر بن ابى ربيعة . فقال لَأَقْضِيَنَّ بَينَكما: اَمَّا اَنْتِ يا سكينة فَأَمْلَح مِنها. وامَّا اَنْتِ يَا عَائِشَة فَأَجْمَل مِنْهَا. فقالتْ سُكينة قَضَيتَ وَاللهِ. 

“Sukainah adalah perempuan paling cantik pada masanya. Pada suatu saat dia berkata kepada temannya Aisyah bint Talhah: “Aku lebih cantik daripada kamu. Aisyah pun membalas : “Aku lebih cantik daripada kamu”. Lalu keduanya mengadu kepada Umar bin Abi Rabi’ah sambil minta pendapatnya. Umar kemudian mengatakan : “Aku akan memutuskan perkara kalian. Kamu Sukainah lebih manis daripada dia, dan kamu Aisyah, paling cantik daripada dia”. Sukainah kemudian mengatakan : “Sungguh, Anda telah memutuskan dengan benar”.  

Perjanjian Pra Nikah
Ada banyak hal yang menarik dari pribadi Siti Sukainah sekaligus pandangan-pandangannya yang progresif sekaligus kontroversial. Salah satunya adalah saat menikah, ia meminta dibuatkan perjanjian pra nikah yang harus ditandatangani calon suaminya. Beberapa bunyi perjanjian itu adalah :

١. الَّا يَمُسَّ اِمْرَأةً سِوَاهَا
٢. الَّا يَحُولَ بَيْنَهَا وَبَينَ مَالِهَا شَيءٌ
٣. الَّا يَمْنَعَهَا الخُروجَ اِنْ تُرِيدُه

 

  1. Tidak boleh mengambil perempuan lain. (Tidak boleh poligini)
  2. Tidak boleh ada rahasia dalam hal keuangan. (Keuangan harus terbuka)
  3. Tidak boleh melarang keluar untuk beraktifitas di luar rumah jika dirinya menghendaki.

Jika salah satu syarat ini dilanggar, maka dia bebas untuk menentukan pilihan gugat cerai atau melanjutkan.

Nah, dalam perjalanan berumahtangga itu, konon, suaminya itu (Zaid bin Umar al-Utsmani) melanggar butir nomor 1. Suaminya mengambil perempuan lain dan berhubungan intim dengan perempuan itu. Sukainan mengajukan gugat cerai.

Hakim menyampaikan, sebagaimana kata Nabi : “penggugat harus menunjukkan bukti, dan jika tergugat mengingkari, dia harus bersumpah”.

Ini berarti Siti Sukainah harus membuktikan hubungan intim suaminya dengan perempuan lain itu dan Zaid bin Umar harus bersumpah jika menolak. 

Saat hakim menanyakan kepada Siti Sukainah, ia menatap suaminya dan mengatakan : 

يا أبا عثمان، تزود منى بنظرة فلن ترانى والله بعد الليلة أبدا.

“Hai Abu Utsman, pandangilah aku sekali lagi dan sesudah malam ini, demi Allah, kamu tak akan lagi boleh melihat aku selamanya”. 

والقاضى صامت لا يتكلم….

 “Dan hakim membisu seribu basa”. 

Ceritanya kemudian, suami menceraikannya. 

Dr. Aisyah bint al-Syathi, mengomentari syarat yang pertama :

لكن الشرط على ما يبدو من غَرَابَتِهِ جَائِزٌ شرعًا. فَلِلْمرأة اَنْ تَشْتَرِطَ على زَوجِهَا اَلَّا يَتَزَوَّجَ عَلَيهَا

Syarat yang pertama meski sangat asing, adalah boleh. Perempuan dalam hal ini boleh menetapkan syarat kepada calon suaminya untuk tidak menikah dengan perempuan lain (tidak poligami).

KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

https://jabar.nu.or.id/hikmah/perjanjian-pra-nikah-ilsld

Author: Zant