Praktik Pesantren Hijau di Darul Muttaqien Bogor Jawa Barat

Jakarta, NU Online

Pondok Pesantren Darul Muttaqien terletak di Desa Jabon Mekar, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdiri pada tahun 1988, pesantren diawali dari wakaf tanah seluas 1,8 hektar oleh H Mohamad Nahar (alm), seorang wartawan senior di Kantor Berita Antara. 

Dari 1,8 hektar itu dikembangkan dan sampai tahun 2022 ini tanah wakaf Darul Muttaqien secara keseluruhan berjumlah seluas 259 hektar, yang berada di Kecamatan Parung Bogor sebagai pusat pesantren, kemudian di Pelabuhanratu Sukabumi, di Pandeglang Banten, dan di Dumai Riau.

Saat ini Darul Muttaqien Parung Bogor memiliki 3.060 santri dan siswa yang berasal dari berbagai wilayah provinsi di Indonesia. Mereka erdiri dari santri dengan jenjang pendidikan TK, SD, SMP/MTs, dan SMA/MA. Di samping ada juga santri di Madrasah Diniyah dan TPQ. Total santri yang bermukim di Darul Muttaqien berjumlah sekitar 1.700, yang terdiri dari 900 santri putra dan 800 santri putri.

Menempati areal seluas 19 hektar, Darul Muttaqien Parung Bogor tidak seluruhnya dibangun ruangan atau asrama. Sebesar 60 persen lahan dijadikan ruang terbuka dan hijau. 

Humas Pondok Pesantren Darul Muttaqien Salim RD menyampaikan Pimpinan Pesantren, KH Mad Rodja Sukarta memang selalu mengedepankan bagaimana Pesantren Darul Muttaqien bisa menjadi pesantren hijau yang nyaman untuk dihuni para santri. Dalam hal lingkungan hidup dan penghijuan, Darul Muttaqien terus melakukan penanaman pohon karena manfaatnya yang besar bagi pesantren. 

“Lahan-lahan yang ada itu kami buat untuk menjadi media pembelajaran bagi anak-anak (santri), di mana anak-anak tidak saja belajar di dalam ruangan namun lebih banyak juga belajar di luar ruangan,” jelas kata Salim RD saat kunjungan Tim Pesantren Hijau, Ahad (18/09/2022).

Tidak semua lahan dibangun gedung asrama. Selain itu ruangan yang ada pun tidak semuanya menggunakan AC. Hal ini adalah salah satu konsep untuk mewujudkan Pesantren Hijau. Maksud dan tujuan dari ruang terbuka dan penghijauan itu dibuat agar sirkulasi udara dan oksigen bisa didapatkan secara maksimal, sehingga pesantren menjadi nyaman untuk dihuni oleh santri.

Selain itu, seluruh warga Pesantren Darul Muttaqien diberi tanggung jawab untuk memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap kebersihan. “Bahwa kebersihan lingkungan pesantren itu adalah tanggung jawab seluruh manusia yang ada di dalam pondok pesantren,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Pesantren Darul Muttaqien menyediakan 1.000 tong sampah di setiap sudut agar ketika ada santri, ustad, pengurus, bahkan pengasuh menemukan sampah bisa langsung membuang sampah ke tempatnya.

“Jadi, bersih itu bukan hanya sebatas slogan. Namun, yang kami ajarkan di sini bahwa bersih itu adalah ambil sampahnya buang pada tempatnya, ambil sampahnya buang ke tong sampah. Itu adalah sebuah konsep kebersihan yang dilakukan warga Pesantren Darul Muttaqien,” pungkasnya.

Kepala Asrama Santri Putra Imron Wachidi mengatakan tanggung jawab yang diberikan kepada para santri, akhirnya menjadi pola pembiasaan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan seluruh lingkungan Pesantren.

“Pada prinsipnya semua bertanggung jawab, mulai dari santrinya, ustadnya, kiainya, semuanya bertanggung jawab secara moril. Baik itu di (lingkungan) asrama, masjid, sekolah. Bahkan ketika kelas belum rapi dan belum bersih, (pelajaran) belum bisa dimulai,” ungkap Imron.

Kepala Asrama Santri Putri Ahmad Suwardi menambahkan bahwa untuk memotivasi para santri, setiap pekan digelar lomba kebersihan kamar dan asrama.

“Tiga kali sehari ada pembersihan, kerapihan kamar. Dan setiap pekannya ada lomba kebersihan kamar dan asrama,” imbuhnya.

Salah seorang ustad di Pesantren Darul Muttaqien Gipin Gustopa menerangkan, Kiai Mad Rodja selaku Pengasuh Pesantren selalu mengingatkan bahwa sampah itu tidak akan jalan sendiri ke tempatnya, tetapi semuanya bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan kerapihan pesantren.

Dalam pengolahan sampah, dilakukan pemilahan dan daur ulang. Sampah yang memiliki nilai okonomis seperti botol plastik dipisahkan lalu dijual. Sampah lainnya seperti kantong plastik dan sebagainya dipilah dan didaur ulang untuk kemudian dijadikan bahan paving block. Sampah berupa daun digunakan sebagai kompos atau pupuk untuk pohon-pohon yang ada di area Pesantren Darul Muttaqien.

Kemudian sampah yang berupa kardus yang biasanya diterima para santri dari orang tua mereka ketika mengirimkan paket makanan, dikumpulkan. Dalam waktu satu bulan kemudian dijual dan didapatkan nilai ekonomi sampai Rp1 juta. Dari pengolahan sampah tersebut Pesantren Darul Muttaqien mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp12 juta setiap bulannya.

Berangkat dari konsep dan praktik pesantren hijau yang diterapkan, pada tahun 2003 Pesantren Darul Muttaqien mendapat prestasi dari Provinsi Jawa Barat sebagai Pesantren Terbersih se-Jawa Barat. Di tahun 2019 Darul Muttaqien juga mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) sebagai Pesantren Ramah Anak.

Pondok Pesantren Darul Muttaqien menjadi pesantren percontohan Program Pesantren Hijau yang diprogamkan LAZISNU PBNU, LPBI PBNU dan RMINU. 

Best practice yang diterapkan di Darul Muttaqien, kata Direktur Eksekutif LAZISNU PBNU Qohari Cholil, menjadi contoh yang baik untuk pembelajaran bagaimana mengelola lingkungan dan menerapkan konsep Pesantren Hijau. 

“Sudah kami tinjau dan saksikan bersama bahwa memang di Pondok Pesantren Darul Muttaqien ini benar-benar menerapkan konsep Pesantren Hijau, yang di mana lingkungan sekitar pesantren ini bersih, rapi, banyak ruang terbuka dan hijau. Saya kira ini patut dijadikan contoh untuk pondok pesantren lainnya,” kata Qohari.

Kontributor: Wahyu Noerhadi
Editor: Kendi Setiawan
 

Download segera! NU Online Super App, aplikasi
keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung
aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

https://www.nu.or.id/nasional/praktik-pesantren-hijau-di-darul-muttaqien-bogor-jawa-barat-cbqwr

Author: Zant