Ruh dan Jiwa itu Hidup

Malam ini, 13.07.22, aku menghadiri haul kiai Umar Shaleh bin Harun, pendiri pesantren Kempek.

Pada setiap momen ritual ini aku selalu ingat kata-kata sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud. Katanya : “Nabi tidur di atas tikar. Lalu bangun. Tampak di punggungnya bekas tikar itu. Aku menawarkan: “bolehkah aku ambilkan kasur, wahai Nabi?”. Beliau menjawab : “Apalah aku ini. Aku dalam kehidupan di dunia ini bagaikan seorang penunggang kendaraan yang berhenti sejenak untuk istirahat, bernaung di bawah pohon. Sesudah itu berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu, untuk pulang ke asal dan tak kembali.

Meski tubuh diam itu, tak bergerak, tetapi ruh/nafs/jiwa terus hidup. Ia mendengar. Saat ada seorang meninggalkan dunia dan diantarkan tubuh atau jenazahnya ke tempat peristirahatan/persinggahan atau kuburan, kita dianjurkan menyampaikan ucapan selamat jalan.

Al Qur’an mengajarkan kata-kata perpisahan itu : 

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan/Penciptamu dengan rela, senang dan disenangi-Nya. Masuklah ke dalam tempat hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam sorga-Ku”.

Plato mengatakan: “sebelum jiwa manusia terpenjara oleh tubuh, ia berada di dunia ide. Oleh sebab itu ia harus kembali ke dunia ide untuk menetap di sana”. 

Selama dalam perjalanan menuju tempat abadi itu jiwa mengharap do’a, terutama dari keluarganya agar selamat, aman dan diampuni Tuhan atas semua kesalahannya. 

اللهم اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه. واجعل الجنة مثواه

KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

https://jabar.nu.or.id/hikmah/ruh-dan-jiwa-itu-hidup-z8tid

Author: Zant