Selain Mi Instan, Berikut 4 Pangan Darurat Alternatif saat Bencana

Jakarta, NU Online
Sebagian wilayah Indonesia berada dalam Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Kondisi geografis ini menjadi faktor penyebab Indonesia sebagai negara rawan terhadap bencana alam. Salah satunya yang baru saja terjadi, yakni gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, beberapa hari lalu.

Ketika bencana alam terjadi, mi instan merupakan bantuan pangan yang paling jamak didapatkan para korban. Padahal, dalam kondisi darurat bencana, mi instan relatif kurang praktis. Karena proses penyajian mi instan membutuhkan air bersih dan kompor yang belum tentu tersedia dalam waktu singkat.

Melansir penelitian Pengembangan Pangan Darurat untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi Masyarakat di Daerah Terdampak Bencana oleh Siti Mariam dari Universitas Terbuka Bandung, dijelaskan bahwa konsumsi makanan mi instan pada masa darurat dinilai tidak sehat karena tidak mencukupi kebutuhan gizi para korban.

Akses yang buruk terhadap makanan berkualitas itu berpotensi menyebabkan masyarakat mengalami defisit energi yang dapat berimbas pada penurunan status gizi. Maka itu, korban bencana memerlukan jenis makanan yang tidak hanya praktis, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi.

Dalam mengatasi kondisi darurat pangan di kawasan terdampak bencana, salah satunya yakni dengan menyediakan makanan darurat yang dapat memenuhi kebutuhan energi serta kebutuhan gizi.

Pangan darurat atau emergency food product (EFP) adalah produk pangan yang didesain untuk digunakan pada situasi darurat dan dapat dikonsumsi secara langsung serta memenuhi kebutuhan gizi harian manusia.

Pangan darurat haruslah memenuhi standar kebutuhan manusia berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG), yaitu 2.100 kkal per hari. Untuk mencapai total kalori tersebut, jumlah makronutrien yang direkomendasikan kandungan protein sebesar 10-15 persen, lemak 35-45 persen, dan karbohidrat 40-50 persen.

Selain itu, kandungan yang direkomendasikan tercakup pada produk pangan darurat adalah gula atau glukosa, vitamin, dan mineral.

Sejauh ini, sejumlah jenis pangan darurat telah dikembangkan di banyak negara. Adapun beberapa jenis pangan darurat tersebut meliputi food bars, meals ready to eat, camping pouch product, dan long shelf life food supply.

Pertama, food bars merupakan produk pangan ringan yang diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan kalori, protein, lemak, serta nutrisi lainnya. Food bars terbuat dari tepung terigu dan tepung keledai yang berbentuk batang dan padat.

Kedua, meals ready to eat. Produk ini dikenal sebagai makanan untuk keperluan militer. Produk ini dibuat dengan mengombinasikan beberapa jenis pangan untuk memenuhi kriteria menu lengkap, dikemas dalam satu wadah yang ringan, sehingga mudah didistribusikan terutama dalam kondisi darurat.

Ketiga, camping pouch product. Produk yang satu ini dikemas dalam alumunium foil dan memiliki umur simpan sekitar dua tahun pada suhu ruang. Pangan ini merupakan pangan hasil freeze drying yang disemprot dengan nitrogen untuk mencegah deteriorasi dan memperpanjang umur simpan.

Produk tersebut memiliki kandungan energi yang cukup dengan persentase makronutrien didominasi oleh lemak sekitar 40-50 persen.

Keempat, long shelf life food supply merupakan produk hasil freeze drying yang disemprot dengan nitrogen. Hanya saja ia dikemas dalam  double-enameled can. Selain itu, umur simpannya juga sangat tinggi yakni di kisaran 10-15 tahun.

Pewarta: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Musthofa Asrori

Download segera! NU Online Super App, aplikasi
keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung
aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

https://www.nu.or.id/nasional/selain-mi-instan-berikut-4-pangan-darurat-alternatif-saat-bencana-YHwPS

Author: Zant