Tafsir Surat Al-‘Alaq Ayat 1: Spesifikasi Surat dan Ragam Tafsirnya

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-‘Alaq  Ayat 1:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Iqra’ bismi rabbikal-lażī khalaq(a).

Artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”.

Spesifikasi Surat Al-‘Alaq 

Surat Al-‘Alaq tergolong surat Makiyah dengan 19 ayat, 72 kalimat dan 270 huruf. Surat Al-‘Alaq dinamakan dengan Al-‘Alaq, Iqra’ atau Bil Qalam. Penamaan ini sebab Allah memulainya dengan kalimat-kalimat tersebut. Lima ayat pertama surat Al-‘Alaq merupakan ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw menurut mayoritas mufasir.

Ragam Tafsir Surat Al-Alaq Ayat 1

Menurut Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya, fi’il Iqra’ dalam ayat ini tidak menyebutkan maf’ul atau objeknya, karena ada dua kemungkinan. (1) Adakalanya karena diposisikan seperti fi’il lazim sedangkan maksudnya adalah ‘أَوْجَدِ الْقِرَاءَةَ’ “Wujudkanlah bacaan”; (2) adalakanya karena sudah jelasnya apa yang dibaca. Adapun perkiraannya adalah ‘اقْرَأْ مَا سَنُلْقِيهِ إِلَيْكَ مِنَ الْقُرْآنِ’ “Bacalah apa yang hendak kami katakan kepadamu dari al-Quran”. (Muhammad At-Thahir ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis, Dar At-Tunisia: 1984 M], juz XXX, halaman 436).

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan dua pendapat terkait huruf ba’ kalimat ‘بِاسْمِ رَبِّكَ’ sebagai berikut:

Pendapat pertama, huruf ba’-nya adalah zaidah atau sekedar tambahan. Ini merupakan pendapat Abu Ubaidah. Sedangkan maknanya: ‘اقْرَأِ اسْمَ رَبِّكَ، أَيِ اذْكُرِ اسْمَهُ، “Bacalah nama tuhanmu, yakni ingatlah nama tuhanmu “.
 

Menurut Ar-Razi, pendapat ini lemah dilihat dari tiga aspek.

  1. jika saja maknanya demikian, maka tidaklah elok saat Jibril berkata: “Iqra'”, kemudian Nabi saw menjawabnya dengan ‘مَا أَنَا بِقَارِئٍ، أَيْ لَا أَذْكُرُ اسْمَ رَبِّي’, “Aku tidak dapat membaca, yakni aku tidak mengingat nama tuhanku”;
  2. pemaknaan semacam itu tidak patut bagi Nabi saw, karena Nabi saw tidak pernah tersibukkan kecuali untuk berzikir kepada Allah. Lantas, bagaimana mungkin Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyibukan dengan perkara yang Rasul selalu tersibukan dengan hal tersebut?
  3. menyia-nyiakan huruf ba’ tanpa faedah.

Pendapat kedua, yang dimaksud oleh ayat adalah اقْرَأِ الْقُرْآنَ, “Bacalah Al-Qur’an”. Karena kata qira’ah tidak digunakan kecuali untuk Al-Qur’an. Semisal firman Allah Surat Al-Qiyamah ayat 18:

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya, “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”.
 

Demikian pula Surat Al-Isra’ ayat 106:

وَقُرْآناً فَرَقْناهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلى مُكْثٍ

Artinya, “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.”

Masih dalam tafsir yang sama, firman Allah: ‘bismi rabbika’  memungkinkan beberepa aspek:

  1. ‘Bismi rabbika’ bermahal nasab. tarkibnya menjadi hal.  Perkiraannya adalah ‘اقْرَأِ الْقُرْآنَ مُفْتَتِحًا بِاسْمِ رَبِّكَ أَيْ قُلْ: بِاسْمِ اللَّهِ ثُمَّ اقْرَأْ’, “Bacalah Al-Qur’an dimulai dengan nama Tuhanmu”. Yakni, katakan Muhammad: “Bismillah, kemudian bacalah”. Hal ini menunjukkan bahwa hukumnya wajib membaca basmalah di permulaan semua surat seperti yang diturunkan Allah dan diperintahkan-Nya. Ayat ini, sekaligus membantah orang yang tidak berpendapat demikian, basmalah tidak wajib dan tidak memulainya dengan basmalah.
  2. Makna ‘اقْرَأِ الْقُرْآنَ مُسْتَعِينًا بِاسْمِ رَبِّكَ’, “Bacalah Al-Qur’an dengan meminta pertolongan dengan nama Tuhanmu”. Seakan-akan Allah menjadikan nama-Nya sebagai alat untuk mengusahakan urusan agama dan dunia. Padanannya semisal ungkapan: ‘كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ’ “Aku menulis (meminta bantuan) dengan pulpen”. Sedangkan perwujudanya dalam ayat adalah: “Ketika malaikat Jibril berkata kepada Nabi saw: “Iqra'”, kemudian Nabi saw menjawab: “Aku orang yang tidak bisa membaca.” اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ أَيِ اسْتَعِنْ بِاسْمِ رَبِّكَ وَاتَّخِذْهُ آلَةً فِي  تَحْصِيلِ هَذَا الَّذِي عَسُرَ عَلَيْكَ, “Bacalah dengan nama Tuhanmu. Yakni, mintalah pertolongan dengan nama Tuhanmu dan jadikanlah alat untuk mendapatkan ini (membaca), yang susah bagimu”, ucap Jibril. 
  3. Firman Allah ‘bismi rabbika’ , yakni: “Jadikanlah perbuatan ini (ikhlas) karena Allah dan lakukanlah semata-mata karenanya. Sesungguhnya ibadah itu jika karena Allah, maka bagaimana bisa setan berani untuk berbuat (mengganggu) ibadah yang (ikhlas) karena Allah?” (Fahruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya’: 1420 H], juz XXII, halaman 512).

Lebih ringkas, Syekh Musthafa Al-Maraghi menafsirkan Surat Al-‘Alaq ayat pertama dengan: “Jadilah orang yang mampu membaca dengan kekuasaan Allah yang menciptakanmu dan menghendakimu setelah engkau tidak dapat melakukan itu. Sesungguhnya Muhammad saw tidak dapat membaca dan menulis. Perintah ilahi datang supaya Muhammad dapat membaca, sekalipun tidak dapat menulis. Allah akan memberikan kitab kepadanya untuk ia bacakan, meskipun ia tak dapat menulisnya.” Wallahu a’lam. (Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, [Mesir: Matba’ah Musthafa al-Babil Halabi: 1365H/1946M], juz XXX, halaman 199).

 

Ustadz Muhammad Hanif Rahman, Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo

Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-alaq-ayat-1-spesifikasi-surat-dan-ragam-tafsirnya-9YOYw

Author: Zant