Tragedi Karbala (1)

Dalam sejarah kaum Syi’ah, hari itu, 10 Muharram, menjadi hari yang sangat penting dan agung. Karena pada tanggal itu Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi, dan keluarga serta mereka yang ikut bersamanya terbunuh dan dibantai secara kejam di sebuah daerah bernama Karbala, Irak, tahun 680 M.  Ia terbunuh sesudah mengalami isolasi dan pertempuran selama 3 hari di tempat itu, oleh pasukan yang dikirim Yazid bin Mu’awiyah. Pada setiap tahun sejak saat itu, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, menjadikan hari itu sebagai hari perkabungan internasional. 

Sebuah kisah tentang ini menyebutkan: Suatu hari Husein diundang untuk datang ke Kufah, Irak oleh warganya yang berjanji akan memberikan dukungan bagi kekuasaanya, menggantikan kakaknya Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beberapa orang sahabat menyarankan agar Husein tidak berangkat ke sana. Konon ada pengalaman bahwa tidak semua orang Kufah jujur. 
Abd Allah bin Zubair mengatakan kepada Husein :

أين تذهب؟! تذهب إلى قوم قتلوا أباك وطعنوا أخاك. لا تذهب فأبى الحسين إلا أن يخرج.

“Akan kemanakah, kau Husein?. Apakah kau akan pergi menemui kaum yang telah membunuh ayahmu dan menikam kakakmu; Hasan?. Urungkan keinginanmu untuk pergi ke sana”.  

Ibn Abbas juga menyampaikan nasehat agar Husein mengurungkan kepergiannya ke Irak. Ia mengatakan :

يابن عم، إني أتخوف عليك في هذا الوجه الهلاك، إن أهل العراق قوم غُدر فلا تغترَنَّ بهم، أقم في هذا البلد .فقال الحسين بن علي: يابن عم، والله إني لأعلم أنك ناصح شفيق، ولكني قد أزمعت المسير. فقال له: فإن كنت ولا بد سائرًا فلا تسر بأولادك ونسائك، فوالله إني لخائف أن تُقتَلَ كما قُتِلَ عثمانُ ونساؤه وولده ينظرون إليه.

“Husein, putra pamanku, sungguh aku sangat mengkhawatirkanmu. Warga Irak adalah kaum yang sering tidak setia. Kamu jangan terjebak pada bujuk-rayu mereka. Tinggal saja di sini”. S. Husein menjawab : “putra pamanku, Demi Allah, aku mengerti engkau telah memberikan nasehat yang baik. Terima kasih. Tetapi aku telah bertekad untuk berangkat ke sana”. Ibnu Abbas mengatakan lagi : “Jika engkau harus berangkat, aku berharap tidak membawa anak-anak,  perempuan-perempuan dan keluargamu. Demi Allah, aku khawatir engkau akan dibunuh, sebagaimana Utsman. Dan kematian itu disaksikan oleh kaum perempuan, keluarga dan anak laki-lakinya”.   

Tetapi S. Husein mengabaikan saran itu. Ia bergeming. Ia percaya pada janji warga Kufah yang akan memberinya janji sumpah setia (baiat) kepadanya. S. Husein mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana”.

Oleh karena itu dia tetap ingin datang ke sana  bersama keluarganya dan pengikutnya yang diperkirakan terdiri dari 72 anggota keluarga dan kurang dari 100 orang pengikutnya. Di Karbala, beberapa kilometer dari Kufah tentara Yazid bin Muawiyah, dalam jumlah besar, di atas 3000 tentara, dibawah panglimanya; Ubaidillah Ibn Ziyad, segera menghadangnya. Ibn Ziyad mengajukan tawaran agar S. Husein tunduk kepada Yazid bin Mu’awiyah. S. Husein menolak. Ia tidak mau mengakui kekuasaan Yazid yang tidak sah. Dia dan ayahnya telah merampas kekuasaan Ali bin Abi Thalib, ayahnya. Maka perang tak sebanding berlangsung sengit.

S. Husein, para pengikut dan keluarganya, kecuali sejumlah perempuan dan putranya, Ali Zainal Abidin Al Sajjad, dibantai. Kepala S. Husein dipisahkan dari tubuhnya, lalu ditaruh di sebuah wadah semacam mangkok besar. Sesudah itu kepala Husein dibawa ke Damaskus, dan diserahkan kepada Yazid.

Konon, saat melihat potongan kepala tersebut, Yazid, berduka dan menangis. Informasi lain menyebutkan, Yazid justru senang dan merasa puas. Beberapa waktu kemudian Yazid menyerahkannya kepada Zainab yang diusirnya agar membawa kepala itu ke Mesir. Menurut satu versi,  perempuan ini lalu mengubur kepala Husein itu di Kairo. Mesir.  

Kuburan itu berada di tempat yang kini dikenal dengan Masjid Husein. Sementara tubuhnya dikubur di Karbala, Irak. Ini menurut sebuah versi. 

KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

https://jabar.nu.or.id/sejarah/tragedi-karbala-1-AOppd

Author: Zant