Urgensi Peringati Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Sebenarnya, sudah lama ingin penulis sampaikan terkait dengan makna kegiatan keagamaan (Islam) yang begitu menggejala di kehidupan masyarakat Islam Indonesia.  

Misalnya ada kegiatan Muharraman, Safaran, Muludan, Rajaban, Rewahan, Lilikuran, Lebaran, Syawalan, dan kegiatan keagamaan komunal lainnya. Kegiatan-kegiatan itu biasanya digelar sesuai dengan pergantian waktu (bulan) yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan keagamaan. Kalaupun tidak dilaksanakan tepat pada waktunya, maka kegiatannya akan tetap dilaksanakan tidak jauh dari waktu aslinya. 

Penulis sendiri memahami, bahwa kegiatan komunal keagamaan yang biasa dilakukan
selama ini merupakan sebagai wujud penghargaan dan penghormatan masyarakat Indonesia atas kemuliaan waktu-waktu tertentu sebagaimana tersirat dalam QS ali-Imran ayat 190 bahwa orang yang berakal (berilmu) itu adalah orang-orang yang mampu memahami, merenungi, dan menghayati fenomena-fenomena alam, termasuk di dalamnya pergantian waktu.

Allah SWT berfirman: 

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS ali-Imran [3]: 190). 

Tidak hanya itu, merayakan kegiatan keagamaan berdasarkan waktu-waktu tertentu seperti halnya Muharraman, Muludan, dlsb harus dipahami sebagai upaya untuk merefleksikan dan merepresentasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam kehidupan sehari hari melalui moment-moment waktu tertentu.

Hal ini merupakan cerminan dari apa yang difirmankan Allah SWT dalam QS al-Asr ayat 1-3 bahwa orang yang beruntung itu yakni orang-orang yang mampu menghargai dan memanfaatkan waktu. Setiap waktu (detik, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun) bagi orang-orang beriman adalah istimewa. Oleh karena itu, melalaikan waktu sekecil apapun termasuk sebuah kerugian.

Allah SWT berfirman: 

وَالْعَصْرِ  
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
 

Artinya:  “Demi masa (waktu).  Sungguh, manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al- Asr [103]: 1-3).

Terkait dengan Muludan, yaitu memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (yang diperingati sebelum atau sesudah tanggal 12 Rabiul Awal) harus dipahami sebagai kegiatan, upacara, maupun ekspresi untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan mengenang perjuangannya dalam menegakkan syiar Islam rahmatan lil ‘alamin sehingga membumi di dunia ini.

Inti dari memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SW itu adalah sebagai bentuk ekspresi keimanan dan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai cerminan dari firman Allah SWT bahwa: “Adapun orang-orang yang beriman kepadanya (kepada Muhammad), memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS al- A’raf [7]: 157). 

Selain itu, yang paling penting bagi kita dalam menteladaninya, memuliakannya yaitu dengan mewujudkan ajaran-ajarannya ke dalam bentuk perilaku di kehidupan sehari-hari, baik pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatan, berbangsa, dan bernegara.

Lalu, mengapa memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang kemudian dilanjutkan dengan meteladaninya begitu sangat urgen (penting)? Sebab pada diri Nabi Muhammad SAW terdapat suri teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan rida dan rahmat Allah SWT.

Allah SWT berfirman: 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21). 

Dengan demikian semboyan “ar-rasul qudwatuna” (Rasul teladan kita dalam segala amal perbuatan) harus mampu dibuktikan pada setiap saat. Bukan saja pada saat memperingati hari kelahirannya saja.

Semoga kita menjadi orang-orang yang akan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW. Dan harapan terbesar kita adalah dapat bersamanya kelak. Aamin 

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa: [4]: 69).

Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut

https://jabar.nu.or.id/opini/urgensi-peringati-kelahiran-nabi-muhammad-saw-DOQ5a

Author: Zant