Visi NU di Forum R20, Bangun Dunia Tanpa Lupakan Peran Agama

Bandung, NU Online Jabar
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini sedang menggagas pertemuan besar berskala internasional yang disebut Religion of Twenty (R20). Agenda ini akan digelar pada 2-3 November 2022 di Bali sebelum agenda politik besar dunia yakni Group of Twenty (G20).

 

G20 merupakan pertemuan 19 negara ditambah Uni Eropa yang memiliki perekonomian besar dengan GDP di atas 1 triliun dollar. Peserta dari pertemuan ini adalah para kepala negara yang akan berkumpul dalam satu forum membahas persoalan dunia. 

Sementara R20 digelar dengan mendatangkan para kepala agama di dunia untuk saling bertemu dan berdiskusi. Melalui perhelatan R20 ini, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf sebenarnya punya visi untuk membangun dunia tetapi tanpa melupakan peran penting agama.  

 

“Visinya hanya satu, agama tidak boleh dipisahkan dari pertimbangan-pertimbangan pembangunan ekonomi, politik, dan budaya. Karena peran agama penting sekali,” ungkap Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU KH Ulil Abshar Abdalla dalam gelar wicara di Kanal Youtube TVNU, dilihat NU Online, Jumat (19/8/2022). 

 

Keterlibatan agama yang dimaksud Gus Yahya itu adalah semua agama. Karenanya, peserta R20 pada November 2022 mendatang adalah para wakil dari seluruh agama besar di dunia. Di antaranya Yahudi, Katolik, Protestan, dan Hindu. 

“Jadi ini seperti koalisi tokoh-tokoh besar berbagai agama untuk memberikan usulan-usulan yang melengkapi hasil-hasil di dalam pertemuan G20. Ini visi Gus Yahya. Visi ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memang pernah belajar dengan tokoh besar seperti Gus Dur. Gus Yahya ini kan belajar pada Gus Dur mengenai visi global,” tutur Gus Ulil. 

 

Selain R20, PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya saat ini juga akan menggelar Muktamar Internasional Fiqih Peradaban pada Januari 2023 mendatang. Kegiatan ini merupakan agenda puncak dari Halaqah Fiqih Peradaban yang digelar di 250 titik se-Indonesia, selama lima bulan, sejak diluncurkan pada Agustus 2022 lalu di Krapyak, Yogyakarta.

 

Menurut Gus Ulil, Gus Yahya memiliki tujuan untuk mengajak umat Islam melalui tokoh dan ulama-ulamanya untuk memikirkan bersama agar fiqih Islam benar-benar bisa berhadapan dengan realitas peradaban baru. Dengan kata lain, fiqih tidak boleh hanya mewarisi peradaban lama tanpa melakukan pembacaan terhadap situasi, realitas sosial, dan peradaban baru.  

Misalnya, di dunia modern terdapat konsep negara-bangsa. Pada tatanan negara-bangsa ini, dikenal konsep warga negara, citizen atau muwathin. Semua orang memiliki kesetaraan, hak dan martabat yang sama di mata hukum. Tidak ada warga negara kelas dua di dalamnya.  

Lalu Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama di Banjar, Jawa Barat, pada 2019 menelurkan keputusan bahwa di dalam konteks negara-bangsa tidak dikenal istilah kafir dan muslim. Semuanya disebut sama, yakni muwathin atau warga negara.   

“Di dalam konteks akidah memang (berbeda), tetapi di dalam konteks bernegara yang kita kenal ya hanya ada warga negara. Semua menikmati perlindungan hukum yang sama. Keputusan Munas NU itu sudah sesuai dengan fiqih peradaban yang dibayangkan Gus Yahya. Salah satunya seperti itu,” ungkap Gus Ulil. 

 

Gelaran R20 yang digagas PBNU itu pun mendapat dukungan dari berbagai pihak di kancah global. Salah satunya adalah Rabithah ‘Alam Islami atau Liga Muslim Dunia yang telah secara resmi mengumumkan partisipasinya sebagai mitra PBNU dalam R20 di Bali, November 2022 mendatang. 

 

Dukungan penuh itu dinyatakan langsung oleh Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, Syekh Mohammad Al-Issa, pada Kamis (18/8/2022) kemarin. Ia menilai, kerja sama antara Liga Muslim Dunia dan PBNU dapat menjembatani realisasi visi bersama untuk menjadi fasilitator dalam pembentukan ruang-ruang diskusi terbuka antaragama.

 

Editor: Abdul Manap

https://jabar.nu.or.id/nasional/visi-nu-di-forum-r20-bangun-dunia-tanpa-lupakan-peran-agama-v5ut7

Author: Zant