Gus Miftah: Bermimpilah dalam Hidup, Jangan Hidup dalam Mimpi

Malang, NU Online

Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) mengatakan manusia tidak pernah tahu masa depannya akan seperti apa, sebab rahasia hidup berada dalam kehendak Allah. Sesuatu yang manusia impikan belum tentu baik. Akan tetapi manusia harus memegang prinsip: Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.

Saat mengisi Tabligh Akbar ‘Kolaborasi Pelajar NU dalam Menyongsong Era Kebangkitan Baru’ yang diadakan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Sabtu (25/2/2023), Gus Miftah menceritakan dulu dirinya bercita-cita menjadi dosen.

“Kalau seandainya Allah kabulkan, mungkin nasib saya tidak seperti saat ini. Saya dulu lihat dosen itu enak, mudah menakuti mahasiswa, apalagi dosen-dosen diktator. Ternyata rahasia hidup itu dalam kehendak Allah. Sesuatu yang kita impikan belum tentu baik untuk kita. Yang jelas saya punya prinsip, bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi,” kata Gus Miftah diberitakan NU Online Jatim.

Jangan dengarkan guncingan
Gus Miftaj juga menjelaskan bahwa dalam menjalani kehidupan tidak harus mendengarkan gunjingan orang lain yang cenderung merobohkan semangat untuk berjuang.

“Adik-adik sekalian, ketika ada orang lain membicarakan keburukanmu, kamu sakit hati maka yang salah itu kamu. Karena kamulah yang memindahkan kalimat itu dari telingamu ke dalam hatimu,” kata Gus Miftah.

Gus Miftah mengibaratkan manusia tidak bisa mengatur ombak, tetapi bisa belajar berselancar. “Kamu tidak bisa mengatur ucapan omongan orang lain kepadamu, tapi kamu bisa ngatur bagaimana menghadapi omongan orang lain kepada kamu. Karena sejatinya yang ada itu hanya orang susah menggunjing orang senang, bukan sebaliknya,” tambah kiai nyentrik berkaca mata hitam tersebut.

Selain itu, Gus Miftah juga menjelaskan bahwa dalam menjalankan kehidupan dibutuhkan sebuah komunikasi, agar tidak salah arah dan tujuannya.

 
“Penting bagi kalian memahami komunikasi yang baik. Dosenmu itu banyak yang pintar dan alim, kenapa ketika dakwah di masyarakat tidak diterima, karena tidak mempunyai bahasa yang baik. Makanya kenapa Kanjeng Nabi menyampaikan khatibunnas ala qadri uqulihim, berbicara kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka,” jelasnya.

Dipaparkan juga bahwa dalam menjalani kehidupan dibutuhkan sebuah kolaborasii, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

 
“Terakhir, era ini penting untuk kolaborasi satu sama lain, karena afdhalul ‘amali bil jamaah. Kita butuh orang lain untuk berkreasi. Kalian harus tau bahwa kadang-kadang rezeki kita itu juga tergantung orang lain,” tutupnya.

Editor: Kendi Setiawan

Download segera! NU Online Super App, aplikasi
keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung
aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

https://www.nu.or.id/daerah/gus-miftah-bermimpilah-dalam-hidup-jangan-hidup-dalam-mimpi-2OugY

Author: Zant